When turned on automatically changes
the theme color on reload.
When you turn on mode
Combat your eye strain when reading.
When turned on automatically changes
the theme color every 5 sec.
Syarat Wajib Puasa
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحمد لله الذي أكرمنا بالإسلام، وهدانا إلى صراطه المستقيم، وجعل لنا شهر رمضان شهر الصيام والقيام، والصلاة والسلام على سيدنا محمد، وعلى آله وأصحابه أجمعين.
Amma ba’du,
Para hadirin yang dirahmati Allah, semoga kita semua senantiasa dalam lindungan-Nya dan diberikan kemudahan dalam menjalankan ibadah. Kali ini, kita akan membahas Syarat Wajib Puasa dalam Fikih Mazhab Syafi’i berdasarkan keterangan dalam Kitab Fathul Qorib.
Sebagaimana kita ketahui, puasa Ramadan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat. Dalam Mazhab Syafi’i, ada lima syarat wajib puasa yang harus dipenuhi seseorang agar ia terkena kewajiban berpuasa.
Imam Abu Syuja’ dalam Kitab Fathul Qorib menyebutkan:
وَشُرُوْطُ وُجُوْبِ صَوْمِ رَمَضَانَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: الإِسْلَامُ، وَالْبُلُوغُ، وَالْعَقْلُ، فَلاَ يَجِبُ عَلَى كَافِرٍ أَصْلِيٍّ وَلاَ عَلَى صَبِيٍّ وَلاَ عَلَى مَجْنُوْنٍ(Fathul Qorib, Bab Puasa)
Artinya: Syarat wajib puasa Ramadan ada tiga: Islam, baligh, dan berakal. Maka tidak wajib puasa bagi orang kafir asli, anak kecil, dan orang gila.
Namun, dalam penjelasan para ulama Syafi’iyah, ditambahkan dua syarat lainnya, yaitu mampu berpuasa dan suci dari haid serta nifas bagi wanita.
Puasa hanya diwajibkan bagi orang Muslim. Orang yang belum masuk Islam tidak diwajibkan berpuasa, dan jika ia masuk Islam di tengah Ramadan, maka ia baru wajib berpuasa sejak keislamannya.
Seorang Muslim baru dikenai kewajiban berpuasa apabila telah mencapai usia baligh. Tanda-tanda baligh menurut Fikih Syafi’i adalah:
Anak kecil yang belum baligh tidak wajib berpuasa, tetapi dianjurkan untuk dilatih agar terbiasa sejak dini.
Puasa hanya diwajibkan bagi orang yang memiliki akal sehat. Orang yang gila atau kehilangan kesadaran secara terus-menerus tidak wajib berpuasa dan tidak perlu mengqadha.
Dalam Kitab Fathul Qorib, disebutkan:
وَلَا يَجِبُ عَلَى مَجْنُونٍ
"Tidak wajib berpuasa bagi orang gila."
Namun, jika seseorang hanya hilang akal sementara, seperti pingsan atau mabuk sesaat, maka tetap wajib mengqadha puasanya.
Orang yang memiliki kelemahan fisik, seperti orang tua renta atau penderita penyakit yang tidak ada harapan sembuh, tidak diwajibkan berpuasa tetapi wajib membayar fidyah (memberi makan orang miskin sebanyak hari yang ditinggalkan).
Sedangkan orang sakit yang masih bisa sembuh dan musafir diberikan keringanan (rukhshah) untuk tidak berpuasa, tetapi mereka harus mengqadha puasanya di hari lain.
Wanita yang sedang haid atau nifas diharamkan untuk berpuasa dan tidak sah puasanya jika tetap berpuasa. Namun, mereka wajib mengqadha puasa yang ditinggalkan setelah Ramadan.
Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fathul Qorib:
وَيَحْرُمُ الصَّوْمُ عَلَى الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ
"Diharamkan berpuasa bagi wanita yang sedang haid dan nifas."
Maka dari itu, wanita yang mengalami haid atau nifas selama Ramadan harus menggantinya di lain waktu.
Seseorang baru diwajibkan berpuasa Ramadan apabila ia memenuhi lima syarat: Muslim, baligh, berakal, mampu berpuasa, dan suci dari haid serta nifas (bagi wanita). Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka ia tidak terkena kewajiban berpuasa.
Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah Ramadan dengan sebaik-baiknya.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ