Komentar

Ungkap Keistimewaan Puasa Sunah Arafah dan Tarwiyah

 Ungkap Keistimewaan Puasa Sunah Arafah dan Tarwiyah

---------------------------------------------------------------------------

Dalam kalender hijriah, bulan Dzulhijjah menjadi salah satu waktu paling agung yang dianugerahkan Allah kepada umat Islam. Sepuluh hari pertama bulan ini disebut-sebut sebagai hari-hari terbaik dalam setahun, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini (yakni 10 hari pertama Dzulhijjah).” (HR. Bukhari). Di antara bentuk amal saleh yang sangat dianjurkan untuk dilakukan pada hari-hari ini adalah puasa sunnah, terutama pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah, yang dikenal sebagai puasa Tarwiyah dan Arafah.

Puasa Tarwiyah, yang jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah, meskipun tidak memiliki hadis yang kuat secara sanad, tetap mendapat tempat istimewa dalam praktik ulama dan masyarakat Muslim, khususnya di kalangan penganut mazhab Syafi’i. Dalam kitab Al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab, Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa puasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah sangat dianjurkan, dan di antara yang paling utama setelah hari Arafah adalah hari Tarwiyah. Beliau berkata: “Disunnahkan berpuasa pada sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah. Yang paling utama adalah puasa hari Arafah, kemudian hari Tarwiyah.” (Al-Majmū’, 6/386).

Meskipun hadis tentang keutamaan puasa Tarwiyah tergolong dhaif (lemah), seperti yang diriwayatkan dalam hadis: “Puasa hari Tarwiyah dapat menghapus dosa setahun, dan puasa hari Arafah menghapus dosa dua tahun” (HR. Abus Syekh dan Ibnun Najar), para ulama Syafi’iyah tetap memandang pelaksanaan puasa ini sebagai bentuk ihtiyath (kehati-hatian) dalam beribadah dan pengamalan amal saleh yang diperluas berdasarkan qiyas terhadap dalil umum tentang keutamaan amal pada 10 hari pertama Dzulhijjah.

Sementara itu, puasa Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah memiliki dasar dalil yang sangat kuat dan shahih. Rasulullah ﷺ bersabda: “Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar ia menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim, no. 1162). Keutamaan yang luar biasa ini menjadikan puasa Arafah sebagai salah satu puasa sunnah yang paling dianjurkan dalam Islam, terutama bagi mereka yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Lebih lanjut, situs resmi Nahdlatul Ulama, NU Online, juga mengulas secara mendalam keutamaan dua puasa ini. Dalam artikel mereka disebutkan bahwa para ulama Syafi’iyah secara konsisten menganjurkan puasa Tarwiyah dan Arafah, meskipun dasar hadisnya berbeda dari segi kekuatan. Dalam pandangan mereka, amalan ini termasuk dalam kategori amal sunnah yang dianjurkan secara umum dalam rangka memperbanyak ketaatan di waktu-waktu mulia. (Sumber NU Online)

Bahkan, dalam artikel “Lafal Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah” di NU Online, dijelaskan pula bacaan niat puasa dalam bahasa Arab, latin, dan terjemahannya. Untuk puasa Tarwiyah, niatnya adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillâhi ta‘âlâ.
"Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala."

Sedangkan niat untuk puasa Arafah adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma arafata sunnatan lillâhi ta‘âlâ.
"Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala."

Menariknya, sebuah jurnal ilmiah berjudul “Puasa Sunnah dalam Tradisi Ulama Syafi’iyah” yang terbit di Jurnal Al-Manahij (2020) juga memperkuat pandangan ini. Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa praktik puasa sunnah di hari-hari Dzulhijjah, meskipun sebagian hadisnya tidak sahih, tetap memiliki nilai valid secara fiqh melalui pendekatan istihsan dan mashlahat. Dengan demikian, puasa Tarwiyah dan Arafah tetap memiliki pijakan yang kokoh dalam pengamalan umat Islam, khususnya dalam tradisi keilmuan Syafi’iyah.

Kesimpulannya, puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah merupakan kesempatan emas untuk meraih limpahan pahala dan ampunan dari Allah ﷻ. Bagi yang tidak mampu berpuasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah, cukuplah dua hari ini—Tarwiyah dan Arafah—sebagai bentuk ikhtiar menggapai ridha Allah. Puasa Arafah menjadi pelebur dosa dua tahun, dan puasa Tarwiyah menjadi wujud partisipasi spiritual dalam suasana ibadah haji, meskipun secara fisik kita tidak sedang berada di Tanah Suci.


Daftar Referensi:

  • Imam Nawawi, Al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab, Dar al-Fikr, Beirut.
  • Imam Muslim, Shahih Muslim, Hadis no. 1162.
  • Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Hadis no. 969.
  • Dr. Muhammad Rawwas Qal'ahji, Mawsu'at Fiqhiyyah Muyassarah, Darul Fikr.
  • “Ini Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah”, NU Online.
  • “Lafal Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah”, NU Online.
  • “Ragam Keistimewaan Puasa Tarwiyah dan Arafah”, NU Online.
  • “Khutbah Jumat: Anjuran dan Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah”, NU Online.
  • “Puasa Sunnah dalam Tradisi Ulama Syafi’iyah”, Jurnal Al-Manahij, Vol. 14, No. 2, 2020.


Baca Juga

Post a Comment

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.